ini sebuah cerita di lepas sore...
diawali dengan suatu pagi, saat lo memutuskan melangkahkan kaki ke sebuah tempat yang cukup lo impikan. semuanya bakal terasa menyenangkan, mau gamau bibir lo senyum sendiri tanpa butuh alasan kenapa harus tersenyum. berharap bertemu orang-orang baru yang misterius. berharap semuanya berjalan sesuai rencana dan berjalan menyenangkan, walau sesekali pasti ada harapan akan 'kebiruan' yang biasanya ujungnya adalah keindahan.
tapi setelah sekian lama apa yang lo harapkan dan gambarkan diangan-angan tidak persis sama dengan apa yang dikenyataan. beberapa memang benar terkabul, tapi selebihnya...jauh beda. yang lo lakuin?
awalnya, seorang anak yang anggaplah dengan inisial O penuh ambisi menebar keceriaan dan kehangatan. tapi memang ternyata budaya yang baru itu belum sama sekali dikenal O dan belum sama sekali bisa diterima O. yang dilakukan O? tentu saja, ini awal, dia awam, jelas dia pasrah mengamati alur yang sudah sekian lama ada. pasrah benar-benar pasif? tidak juga... O tetap jalan dirutenya, sesekali mampir ke rute yang ada, rute budaya yang memang mau ga mau harus dilewati. dan dari matanya yang jujur, terlihat jelas bahwa O masih sangat menikmatinya.
tidak seperti apa yang dikatakan orang mengenai kebijaksaan si pemilik budaya baru itu. ternyata 'kekerasan' pun ramai mewarnai walau terkesan samar-samar. O tetap yakin bahwa dia tidak salah melangkah masuk. O tetap percaya bahwa 'kekerasan' ini memang hanya sebuah kata dalam tanda kutip, tidak lebih. yang tidak nyata dan bukanlah watak asli, walaupun sebenarnya O pun tidak punya bukti konkrit akan keyakinan yang dibangnnya itu, hanya berdasar pada keyakinan. sebuah keyakinan yang diharapkan bukan keyakinan sesat.
tapi sekuat apapun keyakinan O, keadaan tidak dapat dimanipulasi. kadang terasa lelah, kadang terlalu capek untuk sekedar berbagi, berbicara. O hanya ingin menyatu dalam satu kesatuan tanpa ada tekanan dari yang katanya 'budaya' itu. O tetap bersikap apa adanya, pergi melangkah dengan senyum yang biasanya dan bermain seperti layaknya anak diusianya. sedikit masa bodoh dengan apa yang terjadi. bukan apatis, tapi lebih memilih mengurus apa yang memang harus diurus, sesuai tujuan awal dia sebelum dia memutuskan tempat yang akan dituju sekian bulan sebelumnya. dan saat itu juga masih jelas terlihat dari matanya yang jujur bahwa "ya... aku masih dan akan menikmatinya dengan suka cita", keyakinan sugesti dalam diri yang mungkin ada unsur pelarian dari kejadian depan mata.
lagi-lagi, secuek-cueknya O, akhirnya terasa juga ketidaknyamanan yang mungkin dari awal terasa tapi coba diacuhkan. O memperbaiki diri, meluruskan pikiran, merendahkan hati, dan membuka lebar hatinya. tapi sepertinya ada sesuatu disisi yang lain sana, entah dari mana yang malah mem........apalah susah dituliskan. anehnya adalah, ada suatu bagian dihati O yang kemarin tertekan dan hari itu terus semakin tertekan dan akhirnya sakit. sakit yang tidak hilang dengan hanya satu helaan nafas.
hari ini O kembali mulai lelah, O mulai berpikir untuk ambil sikap tegas. selama ini mungkin hanya keterlibatan dalam candaan ringan. tapi mulai besok, mungkin tidak akan lagi sekedar candaan ringan. toh hidup ini untuk membangun dan mencari kenyamanan bersama. dan ya... semuanya butuh proses, O juga sadar betul akan hal itu. sekian bulan memang bukan waktu yang lama, tapi pasti ada beberapa yang O pelajari dan kuasai didalamnya. kita semua ini awalnya sama. melangkah dengan tujuan yang sama, dan mungkin juga dengan harapan yang sama. entah apa yang terjadi diperjalanan sampai sedemikiannya yang terjadi.
diam bukan berarti kosong, O memperhatikan dan belajar, bukan juga mengimitasi. diam bukan berarti tidak mengerti apapun, tapi O tekun mengamati dan mengambil informasi detail sebagai dasar ideologinya kelak.
dan O tidak sendiri. O punya teman, teman yang satu, teman yang saling melindungi. teman dengan niat baik dan senyum ikhlas. sekelompok pertemanan yang hanya ingin mencoba melanjutkan langkah bersama di 'kebudayaan' baru yang memang belum sepenuhnya berteman.
entah ini dari mana lagi datangnya, O selalu yakin dan mungkin menjamin bahwa ia akan selalu yakin bahwa ini semuanya hanya dalam tanda kutip. O percaya apa yang ia pikirkan itulah yang akan terjadi, walau mungkin tidak dalam waktu dekat. O mungkin memang mulai lelah, tapi ia sadar ia punya banyak teman disisinya. yang selalu menggandengnya dan menjadikannya kuat, dan akhirnya saling menguatkan. O juga percaya bahwa ada suatu momen dimana ia dan temannya mampu bergandengan dengan budaya baru itu. erat...dan akan sangat sulit dilepas...sulit, tidak akan bisa dilepas.
huuuuuuuuuuuuh,
baiklah saya cukupkan sampai disini dulu. apa ada pertanyaan? seprtinya tidak. yak, selamat siang....*jalan keluar kelas kuliah*